Jika di Indonesia ada gerakan 212 yang berlangsung berjilid-jilid, Malaysia pun memiliki aksi serupa yang bernama 812. Dilansir dari tirto.id, mobilisasi masyarakat itu terjadi sebagai bentuk merayakan langkah pemerintah untuk membatalkan ratifikasi konvensi anti-diskriminasi PBB (ICERD) yang berlaku di negeri Jiran tersebut.
Meski sempat diwarnai berbagai kejadian, toh hal tersebut akhirnya benar-benar sukses menarik massa yang didominasi ras melayu tersebut. ICED sendiri merupakan konvensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dibuat untuk memberantas diskriminasi rasial. Di mana perjanjian ini ditandatangani oleh oleh Majelis Umum PBB pada 21 Desember 1965, dan mulai berlaku sejak 21 Desember 1965.
Gerakan masif yang menjadi ajanng unjuk inspirasi masyarakat muslim melayu ini, didukung oleh dua partai oposisi terbesar Malaysia. Sumber dari tirto.id menyebutkan, mereka adalah United Malays National Organisation (UMNO) dan Parti Islam Se-Malaysia (PAS). Warga yang berdatangan pun Rata-rata mengenakan pakaian putih dan ikat kepala bertuliskan “Bantah ICERD” atau kalimat tauhid.
“Menurutku ICERD itu buruk. Buruk karena akan mengikis posisi orang Melayu. Ini negara untuk orang Melayu. Kami ingin orang-orang Melayu menjadi superior, tetapi mengapa orang-orang ini ingin membuat orang Melayu satu level dengan orang Cina dan India?” ujar salah seorang peserta aksi 812 kepada Eileen Ng, reporter Associated Press via Washington Post yang dikutip dari tirto.id.
ICERD di indonesia, sejak lama telah diratifikasi dan akhirnya berubah menjadi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008. Pada akhirnya, UU No 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis ditandatangani oleh presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sayang, aturan tersebut tampaknya belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Mengingat, Indonesia saat ini tengah rawan dalam isu gesekan yang berbau SARA.
BACA JUGA: Foto-Foto Ini Menunjukkan Sebaiknya Orang Indonesia Belajar Lagi Cara Demonstrasi
Seperti kutipan pidato Bung Karno yang secara tegas menghadang diskriminasi ras, patut kita renungkan, pikirkan dan diterapkan dalam kehidupan bernegara. “Kita hendak mendirikan suatu Negara `semua buat semua`. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi `semua buat semua.“