in

Lord Adi, Petani Cabai Sumatra Barat yang Selalu Naik Tahta Berkat Bakat Unik di MasterChef

Kompetisi masak MasterChef Indonesia yang selalu ditunggu-tunggu udah memasuki season 8. Setiap season selalu ada aja cerita menarik ketika peserta berlomba di galeri. Nggak ketinggalan cerita tentang peserta yang selalu punya keunikan tersendiri. MasterChef Indonesia season 7 misalnya, juara pertama malah berasal dari black team atau peserta yang awalnya udah dieliminasi tapi diberi kesempatan untuk berkompetisi lagi.

MasterChef Indonesia season 8 juga punya banyak cerita menarik mulai dari motivasi peserta ikutan kompetisi sampai tingkah laku dan strategi masak di galeri. Sekarang MasterChef Indonesia season 8 masuk babak 4 besar. Pesertanya adalah Jesselyn, Nadya, Febs, dan Adi. Peserta yang selalu mencuri perhatian dengan masakan dan caranya berbicara adalah Adi. Dia sampai mendapat julukan Lord Adi. Siapa sebenarnya Lord Adi? Strategi masak seperti apa yang dia punya?

Petani cabai di Tanah Datar, Sumatra Barat

Adi, yang bernama lengkap Suhaidi Jamaan, adalah seorang petani cabai di Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Adi memiliki ladang sendiri, yang walaupun nggak luas tapi ia mensyukurinya, begitu yang tertulis di salah satu unggahan Instagram Adi. Keikutsertaan Adi di kompetisi memasak ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah Tanah Datar. Wakil bupati Tanah Datar sempat datang ke rumah Adi untuk memberinya dukungan.

Potret Adi MasterChef Indonesia season 8 di ladang cabainya. [sumber]
Potret Adi MasterChef Indonesia season 8 di ladang cabainya. [Sumber Gambar]
Saat ini Adi menjadi peserta MasterChef Indonesia season 8 yang tertua, usianya 41 tahun. Sebelumnya ia pernah tinggal di Malaysia selama sekitar 30 tahun. Hal ini membuatnya punya logat Melayu yang kental dan berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Terkadang di galeri, ada peserta bahkan juri yang kurang nyambung dengan omongan Adi. Tapi hal itu malah menjadi suatu ciri khas tersendiri dari Adi.

Written by Galih Hayu

Lulusan STM, Dokter Baik Hati yang Nggak Pernah Patok Tarif di Desa Ini Ternyata Gadungan

Harus Tempuh 2 Jam di Lautan, Seorang Bidan Bantu Persalinan Ibu Hamil di Atas Perahu