Nama Achmad Mochtar mungkin jarang terdengar dalam pelajaran sejarah. Namun dokter yang satu ini memiliki jasa yang luar biasa bagi rekan-rekannya sesama dokter dan juga bagi Indonesia.
Achmad Mochtar adalah seorang dokter dan ilmuwan kelahiran Bonjol, Sumatera barat. Ia adalah orang Indonesia pertama yang menjabat direktur Lembaga Eijkman, sebuah lembaga penelitian biologi di Jakarta yang berdiri sejak zaman penjajahan Belanda.
Tragedi yang Menewaskan 900 Romusha
Pada tahun 1944, 900 orang romusha diberi vaksin TCD karena memperlihatkan tanda-tanda bahwa mereka sakit. Vaksin yang diberikan berasal dari Lembaga Pasteur yang dikelola militer Jepang. Namun bukannya sembuh, beberapa hari setelah divaksin ratusan orang malah meninggal dunia.
Mochtar dan Stafnya Disiksa Atas Kematian 900 Orang Romusha
Polisi Jepang menyalahkan Achmad Mochtar yang merupakan Direktur Lembaga Eijkman beserta stafnya atas tragedi tersebut. Pihak Jepang menuduh Mochtar dan staffnya sengaja menyabotase vaksin TCD agar para romusha meninggal.
Eksekusi Mati yang Brutal
Staf dan peneliti Lembaga Eijkman dibebaskan, namun nasib Achmad Mochtar berakhir tragis. Ia menerima hukuman pancung pada 3 Juli 1945. Namun tidak berhenti sampai di situ saja, sebuah catatan harian tentara Jepang menyebutkan bagaimana jasadnya digilas dengan mesin gilas uap sebelum akhirnya dibuang ke liang kuburan masal.
Rencana Kejam yang Terungkap
Sangkot dan rekannya melakukan penelitian dan membaca ulang sejumlah memoir orang-orang yang selamat dari tragedi tersebut. Mereka juga mewawancarai keluarga dan keturunan Mochtar. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa Mochtar sengaja dikambinghitamkan untuk kejahatan perang yang dilakukan Jepang sendiri.
Menurut analisa para peneliti ini, para romusha sengaja disuntik dengan toksin tetanus untuk mengetahui keampuhan vaksin tetanus. Namun ternyata gagal dan menewaskan ratusan orang. Seandainya kegagalan eksperimen ini diketahui pada masa itu, maka Jepang akan dituduh melakukan kejahatan perang.

Karena itu mereka butuh kambing hitam dan Lembaga Pasteur tidak bisa disalahkan karena direkturnya orang Jepang. Maka akhirnya Achmad Mochtar yang punya posisi strategis dan banyak tahu rencana Jepang menjadi kambing hitam.
Atas jasa dan pengorbanannya yang luar biasa ini, namanya kemudian diabadikan sebagai nama rumah sakit di Bukittinggi. Pahlawan bukan hanya mereka yang angkat senjata dan maju ke medan perang. Bahkan dokter juga memiliki jasa yang besar dan pantas disebut pahlawan.
Ia rela menyelamatkan rekan-rekannya yang saat itu disiksa dengan kejam, meski akhirnya ia sendiri harus dieksekusi dengan brutal. Kematiannya menjadi salah satu penanda kekejaman Jepang dalam sejarah kelam penjajahan di Indonesia. Maka sudah selayaknya kita tidak melupakan jasa dokter hebat yang harus menjadi martir demi menyelamatkan nyawa orang lain.