Dikarunia paras tampan dan pendidikan tinggi seyogyanya membuat seseorang bersyukur dan menjalani hidupnya dengan baik. Namun, tidak begitu yang terjadi pada Ted Bundy. Psikolog ganteng yang digemari banyak perempuan ini justru memanfaatkan kelebihannya untuk hal yang mengerikan dan tidak masuk akal.
Bayangkan saja, pria yang merupakan psikolog Amerika Serikat itu justru menjelma psikopat yang menewaskan puluhan orang untuk memenuhi keinginan gilanya. Tidak sekedar membunuh, ia justru menjadikan kepala-kepala manusia sebagai koleksi yang disayanginya.
Ted Bundy Lahir Tanpa Ayah
Bundy kecil dinamai Theodore Robert Cowel, ia dilahirkan oleh seorang ibu tunggal. Karena dilahirkan di luar nikah, kakek dan neneknya mengaku bahwa Bundy adalah anak mereka dan ibunya dikenalkan sebagai kakaknya. Dan saat ibunya menikah denan Johnnie Bundy, barulah ia mengetahui kenyataan sesungguhnya. Setelah itu, Ted kemudian memakai nama belakang ayah tirinya.
Terobsesi Cinta Pertama
Meski lebih sering terlihat diam, Bundy terlihat menonjol karena kecerdasan otaknya. Karenanya mudah saja bagi Bundy meraih sarjana psikologi di Universitas Washington pada 1972. Di universitas Bundy jatuh cinta pada gadis populer dan kaya bernama Stephanie Brooks. Dan sayangnya, Bundy dibuat kecewa lantaran perempuan itu mengakhiri hubungannya secara tiba-tiba dan menghilang begitu saja.
Mengoleksi Penggalan Kepala Wanita yang Mirip Cinta Pertamanya
Balas dendam atas patah hati yang dilakukan Bundy terhadap Brooks memang melegakan untuk sementara waktu. Namun kemudian, ia merasakan amarah yang dilampiaskan pada perempuan-perempuan yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan Brooks. Sebanyak 30 pembunuhan yang diakui oleh Bundy, sebelum dibunuh semua korbannya dilecehkan dan diperkosa terlebih dulu.
Beberapa Kali Kecoh Polisi dengan Sifat Ramah dan Kharismatik
Kasus perkosaan dan pembunuhan berantai yang dilakuan Bundy cukup lama terungkap. Sebenarnya, sudah ada saksi mata yang mencurigai sosok Bundy sebagai pelakunya. Namun ketika itu polisi menghubungi dan menemui Bundy, mereka terkecoh oleh pesona ramah dan ketampanan Bundy. Polisi menganggap tidak mungkin sosok berlatarbelakang pendidikan psikologi menjadi tersangka pembunuhan berantai yang mengerikan.
Memang sulit dipercaya, namun kenyataannya ada manusia yang bisa bahagia dengan menikmati penderitaan orang lain macam Bundy. Namun yang perlu diketahui, kamu tidak akan pernah menemukan akhir bahagia dengan menyakiti orang lain. Ini berlaku dalam hal apapun.