Hari ini adalah tepat setahun terjadinya ledakan luar biasa besar di Beirut. Sebagai pengingat, ledakan tersebut terjadi pada tanggal 4 Agustus 2020. Dalam peristiwa tersebut, setidaknya ada 200 orang meninggal dan setidaknya 6500 orang terluka. Kerugian diperkirakan mencapai mencapai $10–15 miliar atau setara dengan Rp146-219 triliun. Lebih dari 300.000 orang kehilangan tempat tinggal karena insiden tersebut.
Ledakan itu sendiri berkaitan dengan bahan amonium nitrat besar yang disita oleh pemerintah dari kapal MV Rhosus. Hal ini kemudian terbengkalai dan disimpan di pelabuhan tanpa tindakan pengamanan selama empat tahun terakhir. Waktu boleh jadi berlalu, namun ternyata hingga kini masyarakatnya terdampak belum berhasil bangkit lagi. Berikut ini adalah kondisi warga terdampak ledakan setelah setahun berlalu.
Jutaan orang hidup dalam kemiskinan setelah insiden tersebut
Para korban masih trauma
Tak ada yang bertanggung jawab
Mirisnya, setelah setahun kejadian tersebut, belum ada yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Ledakan itu disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang pelabuhan, dengan sepengetahuan segelintir pejabat politik senior, peradilan, bea cukai, dan keamanan. Namun publik sama sekali tidak mengetahui hal itu.
Kemunculan monumen ledakan membuat warga geram
Setahun setelah terjadinya ledakan, sebuah monumen terbuat dari serpihan ledakan dibuat di lokasi ledakan. Namun monumen tersebut justru menuai kemarahan para warga. Hal itu karena mereka percaya jika keadilan harus didahulukan ketimbang mendirikan sebuah monumen untuk peringatan.
BACA JUGA: Geger Ledakan Dahsyat yang Guncang Lebanon, Dikatakan Mirip dengan Meletusnya Bom Hiroshima
Itulah sedikit ulasan tentang kondisi miris masyarakat Lebanon setelah ledakan Beirut setahun lalu. Waktu mungkin sudah berlalu, namun luka mereka terasa masih baru. Semoga warga Lebanon segera mendapat keadilan.