Intrik politik di masa lalu memang jarang terungkap secara gamblang pada masanya. Selain karena minimnya informasi, hal tersebut biasanya sangat dirahasiakan dan bukan untuk konsumsi publik. Seperti kisah Sukarno saat berkunjung ke Jepang pada awal 1958, di mana kedatangan dirinya saat itu dijamin keamanannya oleh Yoshio Kodama.
Kodama sendiri merupakan tokoh sayap kanan di Jepang, sekaligus orang yang berpengaruh di jaringan organisasi bawah tanah Yakuza. Tak heran jika dirinya kemudian dimintai bantuan untuk menjaga Sukarno selama kunjungan tidak resminya di negeri Sakura tersebut. Seperti apa kisahnya, simak ulasan berikut ini.
Tokoh sayap kanan yang juga bekerja untuk dinas rahasia AS
Kodama termasuk memiliki rekor buruk selama PD II. Oleh Amerika Serikat, dirinya dicap sebagai penjahat perang. Meski demikian, CIA menggandeng dirinya untuk menjadi agen dan memiliki ideologi yang sama dengan pemerintah AS pada saat itu, yakni anti terhadap komunis. Kodama pun menjadi salah seorang pendiri Liga Antikomunis Rakyat Asia.
Dimintai bantuan untuk menjaga Sukarno selama kunjungan tidak resminya di Jepang
Saat diminta bantuan untuk menjaga Sukarno, Kodama menyerahkan tugasnya itu kepada salah satu pengikutnya, Kobayashi Kusuo, yang merupakan seorang petinggi perusahaan di bidang konstruksi, Dai Nihon Kyogyo. Namun, bisnis tersebut dinilai hanyalah kedok belaka untuk menutup-nutupi Ginza Police, organisasi bawah tanah yang terafiliasi dengan Yakuza.
Politisi berpengaruh yang merupakan keturunan klan samurai Jepang
Dalam dokumen CIA bertanggal Dai Nihon Kyogyo, Kodama digambarkan sebagai pegiat organisasi kanan yang memiliki pengaruh besar di Jepang. Selama tahun 1960-an, Kodama memimpin organisasi kanan bernama Thought Study Society di Jepang. Kelompok itu terdiri dari 30 organisasi sayap kanan dan memiliki anggota sekitar 2.700 pria.
BACA JUGA: 4 Fakta Hubungan Soekarno dan Organisasi Sangar Yakuza yang Jarang Diketahui
Berkat perlindungan yang diberikan Kodama, pasukan Ginza Police suruhannya mampu menjaga Sukarno dari segala ancaman. Termasuk beberapa anggota PRRI yang dikabarkan hendak menyerang presiden pertama RI tersebut. Kisah hidup Kodama kemudian diangkat ke dalam sebuah autobiografi berjudul I Was Defeated yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan kemudian menjadi buku best seller.