Tak ada yang menyangka jika operasi pembebasan sandera di Mapenduma Papua, menyimpan sebuah catatan kelam dalam sejarah militer Indonesia. Meski tugas di garis depan berhasil dilaksanakan oleh satuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), toh salah satu anggotanya yang bernama Sanurip justru berbuat sebaliknya.
Aksinya inilah yang membuat namanya dikenang sebagai sosok prajurit yang tega ‘mengambil’ nyawa rekannya sendiri dan warga sipil tak berdosa. Kejadian di pagi hari itu, dimulai oleh Sanurip yang memulai aktivitasnya di sekitar landasan udara Mozes Kilangin, Timika pada 15 April 1996. Tak ada yang aneh pada saat itu.
Korban pun mulai berjatuhan satu persatu di tangan perwira dari satuan Batalyon 12 Grup 1 Para Komando (Parako) dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus), di Serang, Banten tersebut . Dikisahkan oleh Brigadir Jenderal Amir Syarifudin, Kepala Pusat Penerangan ABRI, Sanurip pagi itu ditegur karena berisik. Namun, ia tak terima.
Spekulasi pun mulai bermunculan di kalangan para Jenderal atas insiden tersebut. Gejala malaria yang merusak sistem saraf, dianggap oleh para petinggi ABRI sebagai penyebabnya. Di mana Sanurip mengalami gangguan kejiwaan yang kemudian mempengaruhi tindakannya sehingga berbuat nekat di lapangan.
Para korbannya yang berjumlah 16 orang, terdiri dari 11 anggota ABRI (kini TNI), yakni Komandan Detasemen 81 Penanggulangan Anti Teror (Gultor), Letnan Kolonel Infanteri Adel Gustimigo, Mayor Gunawan dan Kapten Djatmiko. Korban lainnya sebanyak 5 orang adalah warga sipil. Beberapa nama perwira di atas, dikenal memiliki karir yang bagus dan tengah naik daun pada saat itu.
BACA JUGA: Kolonel Infanteri Agus Hernoto, Sang Legenda Kopasus yang Tak Gentar Meski Disiksa Musuh
Proses pemeriksaan pun tak berjalan maksimal. Ditambah Soeyono yang dinonaktifkan dari dinas, membuat dirinya tak lagi bisa menyelidiki kasus Sanurip. Tak lama, dirinya pun mengetahui kabar bahwa Sanurip meregang nyawa di dalam selnya. “Yang saya dengar karena bunuh diri di selnya,” ucap Soeyono.