Lagi-lagi netizen Indonesia menghebohkan naiknya iuran BPJS kesehatan. Isu naiknya iuran ini sebenarnya sudah sangat lama sekali, hanya saja, informasi resminya baru keluar dan diumumkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebesar 100 persen pada Kamis (24/10/2019).
Melihat hal ini, banyak netizen yang heboh. Mereka bahkan beramai-ramai membuat tagar #BPJSMenyengsarakan dan #BPJSDebtCollector. Kira-kira apa ya yang membuat BPJS ini naik drastis? Yuk, simak dalam ulasan berikut ini.
Kenaikan BPJS berlaku untuk siapa saja?
Melansir dari kompas.com, Kenaikan iuran itu berlaku bagi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan peserta bukan pekerja. Adapun mengenai kenaikan ini, sudah ada peraturan yang mengaturnya, yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.
Tarif kenaikan biaya BPJS yang harus dibayar
Adapun kenaikan biaya ini menyesuaikan dengan kategorinya masing-masing. Dalam hal ini ada tiga kategori yang sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019. Yang pertama, PBI (disubsidi pemerintah daerah) naik dari 23 ribu jadi 42 ribu. Kenaikan sudah mulai berlaku sejak 1 Agustus 2019.
Masyarakat yang akan menagih pelayanan prima
Seperti yang kita tau bahwa selama ini masyarakat sering mengeluh terkait dengan pelayanan BPJS yang mereka terima. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody S Dalimunthe bilang jika pelayanan yang diberikan BPJS Kesehatan masih sama seperti sebelum kenaikan iuran, maka peserta bisa jadi menambah manfaat layanan kesehatan dari asuransi swasta, melansir dari cnnindonesia.com.
BACA JUGA: Kontroversi Tarif BPJS Bakal Dinaikkan, Bagaimana Nasib Rakyat Kecil di Masa Depan?
Ya, semoga dengan adanya kenaikan ini, pelayanan kesehatan terhadap mereka yang merupakan peserta BPJS juga lebih mudah ya. Dengan begitu, kepuasan ada di dua pihak, mereka yang membayar dan yang mengurus BPJS tersebut.