Berbicara tentang Rusia, tentu Moskow adalah ikon yang lebih dikenal. Tapi ternyata di tengah hiruk pikuk Rusia yang terkenal dengan pergaulan bebas dan hedon, Gronzy menjadi mata air penyejuk untuk negara ini. Gronzy merupakan ibukota Chechnya, negara bagian federasi Rusia dengan jumlah penduduk muslim yang fantastis, yaitu 1,2 juta jiwa.
Chechnya sekarang sedang berbenah, memperbaiki negara yang sempat luluh lantak karena perang yang tiada berkesudahan dengan Rusia. Kental akan nuansa Islam, inilah fakta penting tentang Chechnya yang berhasil Boombastis rangkum.
Stok perempuan cantik yang berlimpah dan tiada habisnya
Berbicara tentang perempuan, Chechnya seperti menjadi gudang untuk para perempuan cantik dan menawan. Di antara desingan mesiu dan dentuman Meriam, anugerah penduduk Chechen adalah gadis cantik bisa ditemukan dimana-mana, wajah mereka tampak seperti blasteran Arab dan Eropa. Salah satu contohnya saja adalah Bisultanova Ilona, wanita cantik yang berhasil menjadi model Dolce & Gabbana.
Nuansa Islam masih sangat terasa dan kental di Chechnya
Berbanding terbalik dengan Moskow, mayoritas penduduk Chechnya adalah orang muslim. Jika berjalan menelusuri Gronzy, negara ini tampak seperti dimensi lain dari Rusia, setiap sudut kota Islam benar-benar bisa dirasakan. Kumandang suara azan dan lantunan ayat suci Al-Quran adalah hal yang pasti terdengar di negara ini, kecintaan terhadap agama Islam memang sudah ditanamkan selagi belia.
Dipimpin oleh presiden panutan yang gemar bersholawat
Bernama lengkap Ramzan Akhmadovich Kadyrov, sosoknya menjadi presiden Chechnya di usia yang sangat muda, yaitu 40 tahun. Dilantik oleh Vladimir Putin pada februari 2007, sosok Ramzan seperti menjadi penyejuk bagi penduduk Chechen. Terkenal tegas dalam meberantas kemaksiatan seperti judi dan minuman keras, mendukung penuh muslimah untuk berhijab, mewajibkan para pejabat bersholawat, ia juga dekat dengan dengan ulama.
Terlibat konflik tak berkesudahan dengan Rusia
Negara yang banyak menghasilkan minyak ini ditaklukkan pada abad ke 19 oleh kekaisaran Rusia. Karena menolak invansi, pemimpin yang berkuasa ketika itu, Imam Syahmili dibunuh ketika berperang, sehingga seluruh wilayah Chechnya dikuasai oleh pemerintahan Rusia. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1992, pemimpin Chechnya menggunakan kesempatan tersebut untuk merdeka, namun lagi-lagi ditolak dengan alasan karena Chechnya mayoritas muslim dan bisa menjadi dalang bagi republik lain untuk ikut memisahkan diri.
Chechnya sekarang sudah mulai memperbaiki infrastrukturnya perlahan-lahan dan bangkit dari keterpurukan pasca perang. Kehadiran seorang pemimpin yang tegas dan bisa menjadi panutan menjadi penguat tersendiri untuk negara ini. Ya, semoga saja Chechnya selamanya damai dan bisa lepas dari cengkaraman Rusia.