Ulah Hacker atau pembobol sistem komputer akhir-akhir ini memang sangat meresahkan. Sudah tak terhitung lagi kerusakan dan dampak yang ditimbulkannya selama beraksi. Yang menakutkan, mereka juga tak segan-segan menyebarkan virus berbahaya yang dapat melumpuhkan jaringan komputer hanya dalam hitungan menit.

Di Indonesia sendiri, banyak Hacker yang justru meretas sistem komputer di luar negeri. Seperti baru-baru ini yang terjadi, kawanan Hacker asal Surabaya yang bernama Surabaya Black Hat atau SBH, melakukan kejahatan digital dengan membobol sebanyak 600 situs di 44 negara berbeda. Seperti apa sepak terjangnya penyusup digital tersebut? simak ulasan dibawah ini.

Belajar dan Tergabung dalam sebuah organisasi khusus

Seperti yang diketahui, para peretas akun-akun pada website luar negeri tersebut, merupakan sekumpulan orang yang ada pada satu organisasi. Surabaya Black Hat (SBH), merupakanperkumpulan yang menaugi ketiga penjahat cyber yang telah menjadi tahanan Polisi tersebut.

Tergabung dalam organisasi [sumber gambar]
Namun, Surabaya Black Hat yang berdiri pada 2011 tersebut, telah melakukan klarifikasi terkait ulah ketiga membernya tersebut. Ternyata, organisasi tersebut, tidak ada sangkut pautnya dengan aksi kriminal ketiga anggotanya. Organisasi kepemudaan di bidang IT tersebut sebenarnya didirikan untuk tujuan edukasi dan pengetahuan di bidang komputer.

Hanya butuh 5 menit untuk bobol akun-akun penting

Kasus pembobolan yang dilakukan oleh ketiga Mahasiswa sebuah perguruan tinggi tersebut, tergolong sangat cepat dan sulit dideteksi. Menggunakan sebuah teknik yang bernama Penetration Testing atau pentest, mereka leluasa memasuki komputer orang lainĀ  secara ilegal.

Ilustrasi bobol komputer [sumber gambar]
Prosesnya pun hanya membutuhkan waktu lima menit saja. Modusnya yang digunakan adalah, para tersangka hendak menguji keamanan suatu website. Setelah mengetahui celahnya, mereka malah memanfaatkan hal tersebut untuk membobol komputer korban.

Mengancam dengan uang tebusan

Setelah berhasil merusak sistem kemanan pada komputer korban, para Hacker tersebut mengirim sebuah email pada korbannya untuk membayar sejumlah uang tebusan. Mata uang yang digunakan pun, merupakan jenis digital yang bisa dibayarkan ke dalam akun Paypal dan Bitcoin.

Ilustrasi uang tebusan Hacker [sumber gambar]
Jika sang korban tak menuruti perintah untuk membayar, tersangka yang masih berstatus mahasiswa tersebut mengancam akan menghancurkan sistem milik korban. Dari sinilah para Hacker tersebut meraup banyak keuntungan secara materi.

Mampu kantongi uang ratusan juta rupiah dalam setahun

Sesuai dengan bukti yang tercatat, kelompok Hacker ini sudah bekerja pada 3.000 sistem elektronik di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Ada 600 website yang telah berhasil diretas oleh kawanan perampok digital tersebut.

Ilustrasi mampu hasilkan uang banyak [sumber gambar]
Dalam setahun, para Hacker tersebut sanggup mengantongi uang sebesar Rp 200 juta. Untuk jumlah penebusannya lebih bervariasi. Rata-rata mereka meminta nominal Rp 15, 20 hingga 25 juta dalam aksinya. Korbannya kebanyakan berasal dari benua Eropa, Asia hingga Amerika.

Ditangkap Polisi Indonesia yang bekerjasama dengan FBI

Setelah kasusnya mencuat, pihak Indonesia yang bekerjasama dengan IC3 ( Internet Crime Complaint Center) dan FBI Amerika Serikat, segera berkoordinasi. Hasilnya, para tersangka tersebut ditangkap di rumahnya yang berada di kawasan Gubeng, Surabaya. Sebenarnya, Polisi telah mengincar enam orang sebagai pelaku utama atas kejadian tersebut.

Akhirnya ditangkap Polisi [sumber gambar]
Namun, hanya tiga orang berinisial NA,ATP dan KPS yang berhasil ditangkap. Atas perbuatannya, mereka akan dijerat dengan Pasal 30 jo 46 dan atau pasal 29 jo 45B dan atau 32 Jo Pasal 48 UU RI No.19 Tahun 2016 tentang perubahan UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE, dengan ancaman hukumannya 8 tahun hingga 12 tahun penjara.

Kejadian pencurian serta pemerasan yang dilakukan secara eletronik tersebut, tak pelak bak dua sisi mata uang yang berlainan. Pada satu sisi kehebatan Hacker Indonesia kian diakui dunia internasional, namun di sisi yang lain, kegiatan tersebut justru mencoreng nama baik Indonesia di mata dunia. Semoga kedepannya, para Hacker jenius tersbeut, mengalihkan kemampuannya tersebut, ke dalam bidang yang lebih positif. Misalnya, menjaga kemanan jaringan internet Indonesia dari serangan Hacker negara lain.