Siapa yang tak kenal dengan Amerika Serikat? Di mata dunia, negeri Paman Sam ini dikenal sebagai “Polisi Internasional” yang kerap mencampuri urusan negara lain. Sejuta alasan dan konspirasi kerap digunakan oleh pemerintahan mereka untuk memuluskan rencana-rencananya. Tak jarang, jalan kekerasan dan perang terpaksa dipilih jika diplomasi menemui jalan buntu.
Di Indonesia sendiri, sepak terjang Amerika Serikat telah ikut mewarnai perjalanan panjang sejarah NKRI. Mulai sejak masa revolusi hingga era reformasi. Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengancam Indonesia dalam soal perdagangan. Tak hanya sekali ini saja NKRI mendapatkan tekanan dari negeri Paman Sam. Meski diancam berkali-kali, toh hal tersebut ternyata tak membuat rakyatnya takut sedikitpun.
Presiden Soekarno diancam pembunuhan oleh CIA
Di era perang dingin, Indonesia pada saat itu berada dalam posisi yang sangat vital di kawasan Asia Tenggara. Pada saat itu, Presiden Sukarno cenderung mendekat ke wilayah blok timur yang notabene dikuasai oleh komunis Rusia. Karena tak dianggap “Pro-AS”, badan intelijen CIA pun merencankan sebuah skenario untuk membunuh sang proklamator.
“Apa yang kita lihat adalah sedikit bukti bahwa CIA telah merencanakan pembunuhan,” kata Profesor Cribb. “Tampaknya tidak ada bukti plot yang pasti, tapi ada diskusi serius tentang pembunuhan.” ujarnya yang dikutip dari matamatapolitik.com.
Ancaman terselubung dalam Proxy War
Gagal merencanakan pembunuhan Presiden Sukarno, tak serta merta membuat CIA kehilangan akal. Mereka datang kembali dengan taktik baru yang dinamakan Proxy War. Sistem terselubung ini merupakan bagian dari modus perang asimetris yang jauh berbeda dengan peperangan konvensional. Pihak ketiga dimanfaatkan dalam strategi Proxy War untuk menjatuhkan lawannya. Sementara pihak sebenarnya yang tengah berkonflik, bisa cuci tangan dengan aman tanpa terdeteksi.
“Perang tanpa bentuk (proxy war) mengancam Indonesia, karena negara-negara luar berlomba-lomba ingin menguasai Indonesia yang kaya akan sumber daya alam.” ujarnya.
Freeport, pembentukan OPM, kritik kebijakan Indonesia yang sering dilontarkan negara-negara barat yang disokong oleh AS dan sekutunya, merupakan salah satu contoh Proxy War yang sewaktu-waktu bisa mengancam keutuhan Indonesia.
Embargo alat-alat militer
Setelah Indonesia merdeka, campur tangan Amerika Serikat terhadap negara ini pun semakin menguat. Kalah dalam strategi politiknya melawan Sukarno di masa lalu, negeri Paman Sam ini mencoba mengungkung kekuatan Indonesia lewat embargo alutsista militer. Alhasil, TNI pun sempat kelimpungan karena kekurangan pasokan suku cadang bagi peralatan tempurnya yang sudah mulai usang.
Freeport mengancam pemerintahan Jokowi
Sebagai perusahaan Internasional, Freeport menganggap dirinya berkuasa atas segala kebijakan yang ada. Berangkat dari hal tersebut, PT Freeport Indonesia dengan berani mengeluarkan ancaman akan menggugat pemerintah Indonesia ke arbitrase internasional. Masalah ini merupakan buntut dari tidak adanya kesepakatan titik temu mengenai kontrak karya.
Diancam dengan pemotongan dana bantuan
Kisruh soal pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem, ternyata berimbas juga pada Indonesia. Seperti yang kita tau, Tanah Air termasuk menjadi salah satu dari 128 negara anggota yang menolak keputusan Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
BACA JUGA: Taktik Amerika dalam Menguasai Dunia yang Tidak Pernah Terduga
Meski telah menerima ancaman yang bertubi-tubi dari AS dan kaki tangannya, toh hal tersebut tak sedikit pun membuat pemerintah dan masyarakat kita gentar. Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, Indonesia tentu mempunyai kekuatan tersendiri dalam mengatasi segala ancaman yang ada. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?